ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR)

images2153183p

 

 

 

 

 

Sejak zaman dahulu banyak orang telah berusaha dengan berbagai cara mencegah kehamilan. Mereka telah mencoba ilmu sihir, ramuan dan memasukkan berbagai benda seperti batu-batuan, koin, tutup botol, perhiasan ke dalam uterus atau rahim. Alat-alat “kontrasepsi” buatan rumah ini tidak memberi manfaat dan juga sangat berbahaya. Penggunaan alat-alat tersebut dapat menyebabkan mutilasi atau mengarah ke infeksi. Semua barang tersebut bukan semata-mata contoh benda dari zaman purbakala. Banyak orang masih menggunakan berbagai metode yang berbahaya, bersifat nonmedis dan merupakan tindakan yang sia-sia. Upaya harus dilakukan untuk menggantikan metode yang kuno dan ketidakpedulian terhadap kesehatan serta akses penggunaan metode kontrasepsi yang aman dan efektif.

Seiring perkembangan zaman yang disertai dengan adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kini banyak wanita telah melakukan KB dengan menggunakan alat kontrasepsi yang dinilai aman dan ideal untuk digunakan. Salah satunya yaitu alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Alat kontrasepsi dalam rahim digunakan oleh kurang dari satu persen wanita berisiko hamil di Amerika Serikat. Jenis ini merupakan kontrasepsi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. AKDR adalah alat kontrasepsi yang disisipkan ke dalam rahim. AKDR pertama kali di buat oleh Richtaer di Polandia pada tahun 1909. Alat kontrasepsi ini menggunakan berbagai bahan dengan bentuk beragam umumnya berbentuk spiral.

Biasanya bahan dasar alat kontrasepsi tersebut adalah polietilen, yaiyu suatu plastik elastis. Bahan dasar alat kontrasepsi tersebut haruslah tidak menyebabkan inflamasi pada rahim yang normal, merupakan alat fleksibel saat dimasukkan dan dilepas, serta mampu mempertahankan “ingatannya” sehingga alat kontrasepsi tersebut dapat kembali kebentuknya semula ketika berada dalam posisinya di dalam tubuh. AKDR memiliki sambungan ke serviks berupa untaian benang. Benang-benang ini memudahkan pelepasan alat kontrasepsi dan memungkinkan seseorang wanita memeriksa dirinya secara berkala untuk memastikan apakah AKDR tetap di tempat, dan memungkinkan pemeriksa dengan cepat mengidentifikasi keberadaan AKDR.

Ada dua jenis alat kontrasepsi dalam rahim yaitu yang mengandung obat (medicated) dan tidak mengandung obat (non-medicated). AKDR yang mengandung obat adalah alat kontrasepsi yang ditambahkan zat kimiawi ke dalam bahan dasarnya untuk meningkatkan keefektifan alat ini dengan menurunkan angka kehamilan, angka alat kontrasepsi yang lepas dari tubuh secara spontan, dan meminimalkan efek samping penggunaan AKDR.

Dua jenis AKDR yang tersedia di Amerika Serikat merupakan jenis yang mengandung obat, yaitu Copper T 380A (ParaGard) dan sistem intrauterus pelepas ievonorgestrel (LNG-IUS/ Mirena). AKDR tanpa obat meliputi Loop Lippes, yang sampai saat ini masih digunakan di Indonesia tetapi tidak tersedia lagi di Amerika Serikat sejak tahun 1985, dan cincin stainless steel yang sebagian besar masih digunakan di negara Cina. Menurut sejarah, AKDR dinamai menurut nama individu yang mengembangkan alat kontrasepsi tersebut atau menciptakan beberapa bentuk AKDR tersebut, atau bentuk AKDR itu sendiri.

Mekanisme kerja AKDR terutama adalah mencegah pembuahan. Ion-ion Copper yang berasal dari AKDR tembaga mengubah isi saluran telur dan cairan endometrium sehimgga dapat mempengaruhi jalan sel telur di dalam saluran telur serta fungsi sperma. AKDR hormonal merusak motilitas saluran telur dan mengentalkan lendir serviks sehingga cairan serviks menjadi lebih lengket. Selain itu, sperma menjadi sulit masuk ke dalam serviks sehingga menganggu motilitas sperma. AKDR juga memiliki mekanisme kerja sekunder berupa reaksi terhadap zat asing lokal yang membuat endometrium menjadi tempat yang tidak sesuai untuk penanaman hasil pembuahan dan kemungkinan membuat AKDR menjadi alat kontrasepsi yang efektif sebagai metode kontrasepsi darurat. Kendati demikian, bila AKDR sudah berada di tempatnya, mekanisme kerja utamanya bukan untuk mematikan sel ovum atau aborsi.

Beberapa pengguna AKDR menunjukkan respons yang baik terhadap penggunaan AKDR karena metode kontrasepsi ini tidak berkaitan langsung dengan hubungan seksual itu sendiri. Dalam penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim, tentunya ada dampak-dampak yang ditimbulkan dari penggunaan alat tersebut. Beberapa wanita keberatan terhadap kemungkinan munculnya efek samping yang berkaitan dengan AKDR, dan beberapa wanita mengatakan tidak menyukai keadaan bahwa terdapat sesuatu benda asing di dalam tubuh mereka. Berikut ini adalah dampak positif dan dampak negatif dari penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).

DAMPAK POSITF DARI PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM

(AKDR):

  1. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) sangat efektif mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang lama paling tidak 10 tahun.
  2. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
  3. Tidak mempengaruhi hubungan seksual. Hubungan intim jadi lebih nyaman karena rasa aman terhadap resiko kehamilan.
  4. Tidak ada efek samping hormonal.
  5. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI. Aman untuk ibu menyusui tidak mengganggu kualitas dan kuantitas ASI.
  6. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi).
  7. Dapat digunakan sampai menopause.
  8. Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.
  9. Membantu mencegah kehamilan ektopik.
  10. Setelah AKDR di keluarkan, bisa langsung subur.

DAMPAK NEGATIF DARI PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR):

Efek samping dan komplikasi berikut merupakan keadaan umum yang terjadi pada saat penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim.

  1. Bercak darah dan kram sesaat setelah pemasangan AKDR.
  2. Kram, nyeri punggung bagian bawah , atau kedua keadaan tersebut terjadi bersamaan selama beberapa hari setelah pemasangan AKDR.
  3. Nyeri berat yang berlanjut akibat kram uterus.
  4. Perubahan atau gangguan menstruasi.
  5. Pendarahan berat atau berkepanjangan.
  6. Anemia.
  7. Benang AKDR hilang, terlalu panjang, atau terlalu pendek.
  8. AKDR tertanam dalam endometrium atau miometrium.
  9. AKDR terlepas spontan.
  10. Penyakit inflamasi uterus (PID).
  11. Kista ovarium (hanya pada penggunaan AKDR hormonal).
  12. Aborsi spesis spontan.
  13. Sinkop vasovagal saat pemasangan AKDR.
  14. Dismenorea, terutama yang terjadi selama satu sampai tiga bulan pertama setelah pemasangan AKDR.
  15. Kehamilan ektopik.
  16. Bahaya akibat terpasang diatermi medis (gelombang pendek dan gelombang mikro) pada area abdomen, sakrum, atau pelvik (hanya pada penggunaan AKDR tembaga).
  17. Perforasi serviks atau uterus.

Menurut pendapat saya dengan adanya alat kontrasepsi dalam rahim akan memberikan kemudahan bagi wanita untuk mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang relatif lama. Kelebihan yang lain yaitu, AKDR sangat cocok digunakan oleh wanita yang malas mengkonsumsi obat (Pil KB). Selain itu, juga membantu tujuan program keluarga berencana di negara berkembang seperti Indonesia. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) akan dinilai positif dan menawarkan solusi jika di gunakan dengan baik dan benar. Akan tetapi, teknologi itu akan dinilai negatif jika digunakan untuk tindakan yang berlawanan dengan kebaikan umat manusia.

Alasan pertama penggunaan alat kontrasepsi yaitu untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan serta untuk membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga sehingga tercipta keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain alasan tersebut penggunaan alat kontrasepsi juga bertujuan untuk mengurangi ledakan penduduk. Namun, ada juga sebagian wanita yang menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan gaya hidup dan pekerjaan. Karena setelah menikah, ada sebagian wanita yang tidak mau hamil sebab setelah melahirkan tubuhnya akan melar dan merasa tidak cantik lagi. Selain itu ada juga perusahaan yang mensyaratkan karyawannya untuk tidak menikah sebelum habis masa kerjanya, jadi kalau yang bersangkutan hamil maka ia akan kehilangan pekerjaannya.

Namun demikian, menurut pandangan islam alat kontrasepsi dinilai negatif. Sebab, mencegah terjadinya kelahiran anak merupakan tindakan yang bertentangan dengan ajaran dalam islam. Karena alat kontrasepsi tersebut digunakan untuk menghancurkan dan mengobjekkan manusia. Anak merupakan karunia dari Allah, jadi tidak seharusnya kelahirannya dicegah. Dalam islam melarang pembatasan keturunan secara mutlak. Tidak boleh menolak kehamilan jika sebabnya adalah takut miskin. Karena Allah yang memberi rejeki yang Maha Kuat dan Kokoh. Allah yang akan menanggung rejekinya.

Adapun jika mencegah kehamilan karena darurat yang jelas, seperti jika wanita tidak mungkin melahirkan secara wajar dan membahayakan kesehatannya maka tidak mengapa untuk mencegah kehamilan atau menundanya. Jadi, pada intinya menurut pandangan dalam islam tidak menganjurkan penggunaan alat kontrasepsi jika tidak benar-benar dalam keadaan darurat.

 

SUMBER:

Varney, Halen, dkk, 2007, “Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4”, Jakarta; EGC

BKKBN, 2010, “Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi”, Jakarta; Yayasan Bina Pustaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s