KONFLIK SOSIAL BERBAU SARA

ahmadiyah

            Kondisi kehidupan beragama akhir-akhir ini sebagian warga negara tidak toleran terhadap perbedaan. Hal tersebut merupakan dampak dari arus globalisasi yang disalah gunakan. Sehingga terjadi perpecahan antar manusia karena tidak adanya toleransi terhadap perbedaan pada manusia. Manusia yang beradab pasti bersikap toleran terhadap perbedaan, apa pun corak perbedaan itu. Namun, dalam kenyataan empiris, idealisme ini sering benar di runtuhkan oleh perilaku mereka yang ingin memonopoli kebenaran atas nama agama, ideologi, atau atas nama apapun.

Kondisi yang memperihatinkan dimana sikap toleransi antar umat beragama kian hari semakin tidak bernyawa, berbagai peristiwa terorisme menunjukkan betapa toleransi harus menjadi pola komunikasi antar warga. Terlepas dari perbedaan agama, suku, etnis, budaya, negara juga status sosial. Dengan sikap toleran inilah diharapkan terciptanya kerukunan antar warga dan akan menciptakan kehidupan yang damai. Toleransi antar umat beragama harus tercermin pada tindakan-tindakan atau perbuatan yang menunjukkan umat saling menghargai, menghormati, menolong, mengasihi, dan lain-lain.

Kekerasan dengan mengatasnamakan agama (berkedok agama) menjadi salah satu fenomena yang menyakitkan bagi kita semua. Semboyan bangsa “Bhineka Tunggal Ika” nampaknya mulai dilupakan banyak orang. Kenyataan bahwa bangsa ini di bangun lewat keberagaman, etnis, agama, sosial, budaya, ekonomi, dan latar belakang kehidupan lainnya seolah terlupakan. Kekerasan atas nama agama yang terjadi berturut-turut selama beberapa hari terakhir, makin menambah daftar panjang kasus-kasus kekerasan agama di Indonesia. Kejadian-kejadian itu akan meruntuhkan kewibawaan pemerintah di mata publik. Rakyat akan menilai bahwa pemerintah telah gagal melaksanakan salah satu kewajiban utamanya melindungi warga negara.

Premanisme adalah tindakan diluar hukum yang menggunakan kekerasan baik secara fisik maupun non fisik. Ada beberapa perspektif untuk melihat kekerasan. Salah satunya adalah perspektif konflik. Dalam perspektif konflik kekerasan dapat dilihat dalam enam dimensi. Pertama, kekerasan adalah perilaku tidak wajar yang melanggar batas hak. Kedua, kekerasan merupakan ekspresi untuk memperjuangkan kepentingan atau kebutuhan pihak. Ketiga, kekerasan merupakan bagian dari konflik. Keempat, kekerasan merupakan pertanda kelemahan para pihak dalam mengelola konflik secara damai. Kelima, kekerasan merupakan ujung dari gerakan protes sosial. Keenam, kekerasan sengaja di pergunakan oleh pihak tertentu untuk menunjukkan kekuatan atau gangguan.

Jika saya menjadi presiden, hal yang akan saya lakukan agar hak asasi dan kemerdekaan setiap warga negara secara optimal dapat dilindungi adalah dengan melahirkan undang-undang tentang pengadilan HAM, melakukan kerjasama Internasional dalam upaya pemajuan dan perlindungan HAM, menelusuri pola gerakan dan kelompok yang bergerak mengusung isi SARA.  Selain itu, hal yang saya lakukan adalah membela kepentingan rakyat kecil, mendirikan lembaga pengawas kebijakan publik, mengatasi konflik sosial antar warga, dan lain-lain. Disisi lain, peran serta warga masyarakat dan aparatur pemerintah juga sangat dibutuhkan dalam memajukan perlindungan HAM karena tidak hanya menjadi kewajiban salah satu pihak saja. Melainkan perlindungan HAM menjadi tanggung jawab bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s